MIMIKA BERKABAR – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan terus mendorong pengembangan komoditas cabai rawit yang digarap oleh petani Orang Asli Papua (OAP).
Pada tahun 2025 ini, dinas membina tiga kelompok tani OAP yang dinilai potensial di tiga lokasi berbeda, yaitu Lopong, SP 3, dan Belakang Bandara.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Mimika, Alice Irene Wanama, menyatakan bahwa pihaknya memberikan bantuan stimulan dari dana Otonomi Khusus (Otsus) bidang hortikultura.
“Masing-masing kelompok kami berikan bantuan Rp27 juta untuk biaya pengolahan lahan seluas satu hektar. Bantuan ini diberikan secara bertahap sesuai progres luasan yang mampu mereka kerjakan,” ujar Alice saat ditemui di SP 3, Jumat (13/3/2025).

Selain dana tunai, dinas juga memberikan sarana pertanian seperti bibit cabai, pupuk, handsprayer, tali ajir, dolomit, dan herbisida. Tak hanya itu, pendampingan teknis juga diberikan oleh petani non-OAP yang berpengalaman dalam budidaya cabai.
Alice mengungkapkan, meski sebelumnya petani OAP dinilai kurang telaten dalam mengelola komoditas ini, namun ketiga kelompok binaan tahun ini menunjukkan perkembangan luar biasa.
“Kami menanyakan langsung ke petani di SP 3, mereka sudah panen dua kali dan meraup untung Rp10 juta. Ini menjadi contoh baik bagi petani OAP lainnya,” katanya.

Dengan adanya hasil positif ini, Alice berharap ke depan produksi cabai rawit di Mimika dapat memenuhi kebutuhan lokal, sehingga mampu menekan inflasi akibat lonjakan harga cabai.
“Kita ingin swasembada cabai rawit, tidak perlu lagi mendatangkan dari luar. Jika sudah cukup, kami akan minta agar pasokan dari luar tidak masuk ke Mimika,” tegasnya.
Sementara itu, Natalis Walilo, Ketua Kelompok Tani Koteka Mandiri, mengapresiasi pembinaan yang diberikan dinas. Kelompoknya yang beranggotakan 12 orang merasa terbantu, namun masih menghadapi kendala modal.
“Bantuan Rp27 juta dari dinas sangat membantu, tapi kami masih merasa kurang sekitar Rp20 juta. Terpaksa kami pakai uang sendiri untuk menutupi kekurangan,” ungkap Natalis.

Ia menjelaskan, budidaya cabai rawit cukup menjanjikan. Dalam sekali panen yang berlangsung setiap 55 hari, kelompoknya mampu menghasilkan hingga 100 kilogram. Namun, tanaman ini sensitif, terutama saat musim hujan.
“Kami harus rajin ke lapangan pagi dan sore, merawat tanaman agar tidak rusak. Usia tanaman bisa sampai dua tahun, jadi potensinya besar,” tambahnya.
Natalis berharap pemerintah daerah terus mendorong petani OAP agar bisa mengembangkan usaha cabai lebih luas lagi.
“Kami ingin buktikan bahwa orang Papua juga bisa sukses bertani cabai. Semoga ke depan ada perhatian lebih, baik dari sisi modal maupun pendampingan,” pungkasnya. (Red)
























Komentar