MIMIKABERKABAR.COM- Peran perempuan sangat dibutuhkan dalam berbagai sektor pembangunan di setiap daerah, baik pada sektor pertanian dan agribisnis, infrastruktur, industri dan manufaktur, perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, maupun pertambangan.
Salah satu kisah inspiratif yang dapat menjadi motivasi bagi setiap perempuan di Mimika datang dari sosok wanita hebat asal Yogyakarta yang pernah lama berdomisili sebagai warga Kabupaten Mimika.
Sosok tersebut selama ini jarang terdengar namanya, yakni Noorintan Nuzulia, ST, yang akrab disapa Ibu Intan. Ia juga menjabat sebagai komisaris pada tiga perusahaan, yaitu PT Global Finance, dan PT Lintang Wahyu Abadi.
Intan merupakan alumni ITB Bandung, serta istri dari Agus Wahyudiono, S.Pd, yang saat ini berkiprah sebagai politikus DPP Partai Golkar, pernah berkarier di PT Freeport Indonesia, dan pernah berdomisili bersama warga Kelurahan Pasar Sentral di Jalan Hasanudin, Gang Flora, sejak tahun 2000 hingga 2015.Sejak berada di Timika, Intan bersama suaminya merintis usaha batu tela dan batu pecah yang kemudian berkembang menjadi perusahaan kontraktor bernama PT Lintang Wahyu Abadi.
Perusahaan tersebut pernah mengerjakan sejumlah proyek, antara lain pembangunan lapangan terbang di Kabupaten Nduga, pembangunan permukiman masyarakat di Kwamki Narama, pembangunan bandar udara di Bella, pembangunan sekolah di Agimuga, serta pembangunan jalan lingkungan di Limau Asri SP 5.
Di sela aktivitasnya sebagai pengusaha, Intan juga pernah dipercaya menjadi bendahara Lemasko pada masa kepemimpinan almarhum Agapitus Mairimau.Mimika Berkabar berhasil menghubungi Ibu Intan melalui sambungan telepon seluler pada Selasa (14/04/2026).
Dari komunikasi tersebut, diperoleh gambaran mengenai potensi yang dimilikinya untuk mendukung pembangunan Mimika ke depan. Selain itu, Intan juga didorong untuk kembali ke Mimika guna mengembangkan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya selama merantau di Jakarta.
Pada prinsipnya, Intan mengaku sangat merindukan Timika, karena di daerah tersebut tersimpan banyak kenangan indah sekaligus pengalaman berharga yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan profesional di ibu kota.
“Terima kasih kepada masyarakat Mimika, terutama masyarakat Kamoro dan Amungme, yang telah memberikan makna kehidupan yang positif kepada saya selama berada di Timika. Saya adalah wanita biasa yang tentunya memiliki potensi yang sama dengan yang lainnya,” tutur Intan.
Menurutnya, ke depan perempuan akan dihadapkan pada situasi ekonomi yang tidak menentu, sehingga dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.
“Sebagai kaum perempuan, kita dituntut untuk terus belajar, memiliki ilmu pengetahuan, serta kemampuan dalam mengembangkan diri dan meningkatkan ekonomi keluarga. Kita tidak boleh kalah dari pria, karena kita memiliki hak yang sama dan harus menjadi pribadi yang kuat,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Intan menyoroti pentingnya peran perempuan berpendidikan dalam mendorong perubahan di daerah.“Siapa yang akan membawa pembaruan di Kabupaten Mimika apabila perempuan berpendidikan tinggi dan berwawasan luas justru lebih memilih tinggal di ibu kota? Saya memahami bahwa setiap orang memiliki pilihan masing-masing.
Namun, saat ini saya memilih untuk kembali ke Mimika, membuka peluang, serta menciptakan hal-hal baru dari pengalaman yang saya peroleh selama berada di Jakarta,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.“Dengan kembalinya saya ke Mimika setelah sekian lama menimba pengalaman di Jakarta, apa yang telah saya peroleh akan saya kembangkan di Kabupaten Mimika,” tambahnya.
Seperti yang disampaikan oleh Mohammad Hatta, “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tetapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di daerah.” Tanpa kontribusi daerah, ibu kota tidak akan berarti, dan tanpa ilmu pengetahuan serta pengalaman, masyarakat di daerah tidak akan memiliki daya saing.
Melalui kisah ini, masyarakat diajak untuk saling mendukung dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik, tanpa memandang perbedaan suku, agama, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial. Semua pihak memiliki hak yang sama untuk berkembang, sehingga sinergi menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi persatuan bangsa.
Kisah Intan menjadi inspirasi bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk maju dan berkontribusi bagi daerah. Kepulangannya ke Mimika diharapkan dapat membawa semangat baru dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. (Red)






















Komentar