MIMIKA BERKABAR.COM– Upaya percepatan eliminasi malaria di tingkat tapak terus digencarkan. Pemerintah Kampung Mawokauw Jaya bersama Perdhaki, Keuskupan Timika, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Kementerian Kesehatan RI, dan organisasi Bebas Malaria menggelar Rapat Koordinasi khusus di Balai Kampung pada Senin (25/5/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh kader malaria, tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua RT, serta Kepala Kampung Mawokauw Jaya

Ketua TP-PKK Sekaligus Koordinator Kader Malaria Kampung Mawokauw Jaya, Dewi Talubun, dalam arahannya mengajak seluruh masyarakat kampung untuk bergerak bersama.
Menurutnya, pencegahan malaria merupakan satu paket utuh dalam program eliminasi.”Malaria masih menjadi masalah kesehatan utama yang menghambat produktivitas dan ekonomi keluarga. Jika sakit, kita tak bisa bekerja, bahkan malaria bisa menyebabkan kematian jika tak ditangani dengan baik,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya eliminasi bukan hanya tugas sektor kesehatan, melainkan tanggung jawab semua pihak, termasuk tokoh masyarakat dan agama.
“Kita harus bersinergi. Perdhaki dan Dinas Kesehatan memberikan dukungan penuh agar kegiatan ini berjalan lancar,” ujar Dewi.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program Malaria Kabupaten Mimika, Imelda Ohoiledjaan, menyampaikan bahwa Kampung Mawokauw Jaya memiliki posisi strategis.
Kampung ini termasuk wilayah kerja Puskesmas Wania yang merupakan puskesmas dengan kontribusi kasus malaria tertinggi di kota.
Namun uniknya, Mawokauw Jaya justru menjadi kampung dengan kasus terendah di Distrik Wania secara keseluruhan.
“Kami sangat optimis eliminasi bisa dimulai dari sini. Bahkan ini bisa menjadi ‘pecah telur’ pertama eliminasi tingkat puskesmas,” ujar Imelda. Ia menekankan peran kader sebagai ujung tombak informasi.
“Kader adalah warga asli masyarakat. Mereka paling efektif menyampaikan cara pencegahan dan pemeriksaan karena mereka berbicara dengan bahasa dan kepercayaan yang sama.”
Yohanes Erwin Prayogo Raharusun, selaku ketua panitia dari SSR Paroki St. Stefanus Sempan, memaparkan latar belakang dan tujuan rakor.
Menurutnya, pertemuan ini penting untuk membangun kesepahaman dan komitmen kolektif melalui penguatan regulasi tingkat kampung.
“Kami ingin menyatukan persepsi terhadap rancangan aturan bersama. Mulai dari hak, kewajiban warga, hingga teknis pencegahan malaria,” jelas Yohanes dalam laporan singkatnya.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 22 orang ini berlangsung dengan metode pemaparan, diskusi kelompok terfokus (FGD), serta diakhiri penandatanganan komitmen bersama.
Narasumber berasal dari Dinas Kesehatan/Puskesmas dan tim SSR/CSO. Seluruh biaya kegiatan ditanggung oleh dana NFM (Global Fund).
Panitia mengapresiasi kehadiran seluruh unsur, mulai dari PJ Malaria,Pemerintah Kampung, tokoh adat, agama, perempuan, pemuda, hingga petugas Puskesmas Wania dan kader malaria. Acara kemudian resmi dibuka oleh Bapak Kepala Kampung Mawokauw Jaya setelah sambutan dan permohonan maaf dari panitia atas segala kekurangan. (Red)





















Komentar