MIMIKA BERKABAR – Sejumlah mahasiswa dan pelajar menggelar aksi unjuk rasa di kantor DPRK Mimika untuk menyuarakan kekecewaan mereka terhadap kebijakan otonomi khusus (otsus) yang dinilai gagal memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Papua.
Mereka mengklaim bahwa masyarakat Papua tidak sepenuhnya merasakan manfaat dari otonomi khusus yang sudah berlaku selama 24 tahun.

Sejak pagi, para demonstran yang tergabung dalam solidaritas mahasiswa dan masyarakat Papua menduduki area kantor DPRK Mimika.
Melalui orasi mereka, para peserta aksi menampilkan perjuangan para mama-mama Papua, yang mencerminkan kegagalan nyata dari implementasi otsus di wilayah Bumi Cenderawasih.
Aksi tersebut ditandai dengan long march, di mana mereka membawa pangan lokal yang dipikul di atas kepala.Spanduk bertuliskan “Selamatkan Komoditi Lokal” menambah semarak demonstrasi, sementara para orator dengan tegas menyoroti dampak negatif dari otsus yang telah mendiskriminasi banyak rakyat.
Dalam tuntutannya, mereka meminta perlindungan untuk komoditas lokal, sehingga hanya masyarakat Papua yang diperbolehkan untuk menjual produk-produk seperti pinang.

Mama-mama Papua mengekspresikan kekhawatiran akan keberadaan pendatang yang menjual pinang di Pasar Lama dengan cara yang berpotensi memonopoli harga dan menggeser penjual lokal.
Hal ini disampaikan karena mereka melihat banyaknya pendatang yang membuka lapak besar dan leluasa, yang dapat mengancam keberlangsungan mata pencaharian orang asli Papua.
Dalam aksi tersebut, Ketua DPRK Mimika Natikapereyauw dan sejumlah anggota DPRK lainnya, termasuk Iwan Anwar, Andhika Thie, Elinus B. Mom, dan Yan Pieterson Laly, hadir untuk mendengarkan aspirasi masyarakat.
Para anggota dewan berkomitmen untuk memperjuangkan aspirasi para demonstran dan mencari solusi terbaik bagi masyarakat asli Papua. (red)

























Komentar