MIMIKA BERKABAR.COM– Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Kampung Nawaripi, Distrik Wania, mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai upaya membendung dampak negatif rendahnya sumber daya manusia (SDM) pemuda setempat. Kepala Kampung Nawaripi, Norbertus Ditubun, mengungkapkan hal itu saat ditemui di Kampung Nawaripi pada Jumat (8/5/2026).
Menurut Norbertus, kondisi pemuda asli Kampung Nawaripi sangat memprihatinkan. Rata-rata hanya tamat SMA, bahkan banyak yang tidak sampai SMP dan putus sekolah. Akibatnya, mereka menganggur dan rentan terjerumus ke dalam konsumsi minuman keras (miras) serta tindakan negatif lainnya.

“Kalau dia punya SDM yang bagus, dia tahu mana yang baik dan mana yang berbahaya. Tapi anak-anak yang tidak sekolah tidak punya bekal, mereka tidak tahu kalau minuman keras itu meracuni tubuh. Makanya kami buat kegiatan positif agar mereka bisa mengurangi konsumsi miras,” ujar Norbertus.
BLK Kampung Nawaripi didirikan dengan mengantongi izin dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika. Awalnya, BLK membuka tiga jurusan, yaitu las (welder), otomotif, dan mebel. Pada angkatan pertama, berjalan tiga jurusan dengan peserta sekitar 30 orang.
Mereka dilatih selama empat bulan sebelum diuji oleh tenaga ahli dari Balai Latihan Kerja dan Konstruksi PUPR Jayapura.Peserta yang lulus uji mendapatkan dua jenis sertifikat.
Sertifikat standar nasional dari Kementerian PUPR diberikan kepada peserta yang memiliki ijazah SMA atau sederajat. Sementara itu, sertifikat lokal diberikan kepada anak-anak putus sekolah yang belum memiliki ijazah.

Norbertus mengakui, operasional BLK sangat tinggi. Tahun pertama berjalan berkat bantuan tenaga ahli dari salah satu perguruan tinggi di Mimika yang menyumbangkan para dosen secara gratis.
Namun, tahun berikutnya kampung harus membayar honor instruktur meski tidak sesuai standar, mengingat anggaran yang terbatas.”Satu tahun pertama gratis. Dosen-dosen S2 Kampus Politeknik Amamapare Timika yang sumbangkan tenaga pengajar.
Kami hanya siapkan material seperti kayu, besi, kawat las, dan motor-motor bekas untuk belajar. Tapi tahun kedua kami hanya sanggup satu jurusan saja, yaitu welder, karena operasionalnya mahal,” jelasnya.
Kendala lain adalah minimnya minat pemuda yang sudah berkeluarga. Untuk memastikan mereka tetap hadir dalam pelatihan, pemerintah kampung harus menyediakan sembako setiap sore, seperti beras, gula, kopi, mi instan, dan susu.
“Kalau tidak begitu, besok mereka tidak datang. Alasannya pergi cari makan. Dengan cara ini, mereka tetap mau datang. Saya lakukan segala cara demi membiayai kegiatan ini,” ungkap Norbertus.

BLK Kampung Nawaripi kini telah memasuki angkatan keempat. Namun, pelatihan belum selesai karena terkendala dana. Sejauh ini, operasional BLK mengandalkan dana desa, serta kerja sama dengan kampung tetangga seperti Kampung Hiripau.
Dalam angkatan keempat, peserta sekitar 30 orang, dan sebagian besar sudah memiliki ijazah SMA. Mereka akan melanjutkan pelatihan setelah dana desa cair, kemudian menghadirkan penguji dari BLK PUPR Jayapura untuk ujian sertifikasi.
Norbertus menyampaikan apresiasinya kepada Dinas Tenaga Kerja Mimika yang telah memberikan izin operasional. Namun, ia menyayangkan tidak adanya bantuan kontribusi lain dari dinas tersebut.
“Bantuan yang kami rasakan hanya izin. Tidak ada bantuan lain yang memberi kontribusi di sini. Kami berterima kasih kepada pimpinan PT Sangar Sarana Baja (SSB)dan PT. Sandvik di Kabupaten Mimika yang sudah membantu. Semoga ke depan mereka juga bisa bantu besi-besi bekas untuk alat pelatihan anak-anak,” harapnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya juga diketahui pernah mengirimkan empat orang peserta pelatihan ke BLK Nawaripi. Mereka berhasil mendapatkan sertifikat dan kembali ke daerahnya. BLK Kampung Nawaripi menjadi salah satu contoh inisiatif lokal yang berjuang keras memberdayakan pemuda asli Papua di tengah keterbatasan anggaran dan dukungan. (Red)





















Komentar