MIMIKA BERKABAR.COM– Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan menggelar pertemuan evaluasi cakupan pelayanan kesehatan ibu bersalin di Hotel Grand Tembaga, Jumat (29/5/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan pelayanan, menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), serta memastikan persalinan ditangani oleh tenaga kesehatan profesional di fasilitas kesehatan.
Sehubungan dengan itu, Dinas Kesehatan meminta para direktur rumah sakit, kepala puskesmas, dan pimpinan klinik untuk menugaskan satu orang penanggung jawab program ibu bersalin sebagai peserta dalam pertemuan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, dalam sambutannya menekankan bahwa keberhasilan pengendalian HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) sangat bergantung pada perubahan perilaku manusia. Menurutnya, kedua penyakit ini bersumber dari perilaku yang tidak terkontrol.
“HIV/AIDS dan IMS sama-sama kita ketahui bersumber dari perilaku kita sebagai manusia yang tidak ada arah dan tidak terkontrol. Keberhasilan pengendalian penyakit ini tergantung dari perubahan pola perilaku,” ujar Godfried.
Ia mengakui belum hafal secara pasti angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Mimika, namun Dinas Kesehatan terus bergerak maju dan tidak bisa mengabaikan kondisi saat ini.
Godfried menyebut bahwa Kabupaten Mimika mengalami percepatan pembangunan yang pesat, namun di sisi lain juga menghadapi tantangan perilaku seksual bebas yang luar biasa.
“Kita mencoba menekan di lokalisasi, tetapi ada tempat di luar lokalisasi. Sekarang dengan kemajuan teknologi, orang bisa bertemu melalui aplikasi di mana saja. Dinas Kesehatan terus berusaha meminimalisir, tapi ini masalah pola perilaku,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan perilaku bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama semua pihak, termasuk tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, dan LSM yang memiliki keprihatinan terhadap penyakit ini.
Narasumber dari Puskesmas Pasar Sentral, Yoan Tauran, memaparkan situasi HIV/AIDS dan IMS di Kabupaten Mimika tahun 2025.
Sepanjang tahun tersebut, penemuan kasus HIV-AIDS berjumlah 489 kasus, terdiri dari 227 kasus infeksi HIV (46,42%) dan 262 kasus AIDS (53,58%).Secara kumulatif dari tahun 1996 hingga 2025, penemuan kasus HIV-AIDS mencapai 8.410 kasus, dengan rincian 4.067 kasus infeksi HIV (48,48%) dan 4.343 kasus AIDS (51,52%).
Yoan mengungkapkan bahwa pada periode 2017-2025, jumlah kasus AIDS secara konsisten lebih tinggi dibandingkan kasus HIV setiap tahunnya. Kondisi ini berbeda dengan periode 1996-2016, ketika kasus HIV masih lebih tinggi.
“Jumlah kasus HIV fluktuatif, sempat menurun hingga 2021 lalu meningkat kembali. Sementara kasus AIDS tetap tinggi, mencapai puncak pada 2023. Ini menunjukkan masih banyak kasus baru yang terdeteksi pada stadium lanjut (AIDS),” jelas Yoan.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut mengindikasikan perlunya penguatan deteksi dini HIV, peningkatan akses layanan pengobatan tepat waktu, serta edukasi masyarakat berkelanjutan untuk mencegah penyakit berkembang ke tahap yang lebih berat.
Pola penularan infeksi HIV secara keseluruhan didominasi oleh hubungan seksual sebesar 97,56%, diikuti penularan dari ibu ke anak sebesar 2,22%, dan paparan lainnya sebesar 0,22%. (Red)

























Komentar