MIMIKA BERKABAR.COM– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Adolina Magal, S.AP, menggelar kegiatan reses di Kampung Putih, Distrik Hoeya, pada Sabtu (11/7/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas konstitusional anggota dewan untuk menjaring aspirasi dan menyerap langsung keluhan masyarakat di daerah pemilihannya.
Dalam reses tersebut, masyarakat Kampung Putih menyampaikan sejumlah usulan prioritas. Namun, satu aspirasi yang paling mendesak dan menjadi perhatian utama adalah persoalan Lapangan Terbang (Lapter) Perintis Hoeya yang hingga saat ini belum juga dilakukan test landing (uji coba pendaratan).
Masyarakat Hoeya berharap agar uji coba pendaratan di Lapter Hoeya dapat segera dilakukan, khususnya untuk melayani mobilitas warga menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Harapan ini bukan tanpa alasan. Hingga saat ini, Distrik Hoeya sama sekali tidak memiliki akses jalan darat yang memadai. Warga terpaksa berjalan kaki dari Stinga menuju Hoeya dengan waktu tempuh 1 hingga 2 hari hanya untuk mengangkut kebutuhan pokok.
Kondisi geografis Hoeya yang berada di dataran tinggi Kabupaten Mimika menjadikan wilayah ini sangat terisolasi. Minimnya akses transportasi darat berdampak serius pada berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga penanganan keadaan darurat.
Landasan pacu Lapter Hoeya direncanakan memiliki panjang 550 meter dan disiapkan tidak hanya untuk pesawat Pilatus, tetapi juga pesawat yang lebih besar seperti PAC atau Cessna Grand Caravan.
Namun, proses pembangunan di medan berat dan sulit dijangkau ini mengharuskan seluruh pengangkutan alat berat dilakukan melalui helikopter berkapasitas besar.

Menanggapi seluruh aspirasi yang disampaikan, Adolina Magal berkomitmen untuk menampung dan memperjuangkan usulan warga hingga dapat terealisasi.
Sebagai wakil rakyat, ia menegaskan akan mengawal aspirasi ini agar Pemerintah Kabupaten Mimika segera merespons kebutuhan mendesak masyarakat Hoeya.
Reses yang berlangsung di Kampung Putih ini menjadi bukti nyata kehadiran wakil rakyat di tengah masyarakat, sekaligus pengingat bagi pemerintah daerah bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil seperti Hoeya bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar warga yang harus dipenuhi.
Masyarakat Hoeya berharap Lapter Perintis dapat segera diuji coba dan beroperasi, sehingga isolasi yang selama ini mereka alami dapat segera berakhir. (Red)






















Komentar