MIMIKA BERKABAR.COM — Operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Mimika Baru Pasar Sentral disebut telah tersuspensi selama sekitar delapan bulan. Kondisi tersebut diakui pemilik dapur, Arlita, berkaitan dengan polemik kerja sama dan pembagian insentif dengan pihak yayasan.
Arlita menyampaikan hal itu saat ditemui wartawan di sela kegiatan launching SPPG di Kabupaten Mimika, Jumat (2/10/2026).
Menurut Arlita, persoalan bermula ketika pihak yayasan yang menaungi dapurnya disebut meminta bagian insentif sebesar 50 persen. Ia mempertanyakan besaran tersebut karena fasilitas dan tempat yang digunakan untuk operasional dapur, menurut keterangannya, berasal dari dirinya.
“Saya mempunyai dapur SPPG Mimika Baru Pasar Sentral. Saat ini dapur saya sedang disuspensi. Persoalannya karena yayasan meminta 50 persen dari saya, sementara menurut saya yayasan tidak memiliki kontribusi terhadap barang maupun tempat yang saya miliki,” ungkap Arlita.
Ia mengatakan telah berupaya meminta penyesuaian terhadap besaran insentif tersebut. Namun, menurut Arlita, permintaan itu belum mendapat persetujuan dari pihak yayasan.
PERSOALKAN KETENTUAN INSENTIF
Arlita mengaku kemudian mempelajari ketentuan teknis yang menjadi dasar pelaksanaan program MBG. Dari pemahamannya terhadap petunjuk teknis tersebut, ia menyebut besaran insentif untuk yayasan adalah 10 persen.
“Setelah saya mengetahui juknis, saya meminta supaya insentif diturunkan. Yang saya pahami, yayasan mendapatkan 10 persen sesuai ketentuan BGN, bukan 50 persen,” katanya.
Menurut Arlita, dapur tersebut tidak dapat kembali beroperasi secara normal sejak 19 Agustus 2025.
Ia berharap ada penyelesaian agar dapur SPPG Mimika Baru Pasar Sentral dapat kembali melayani penerima manfaat. Salah satu opsi yang diharapkannya adalah kesempatan untuk bekerja sama dengan yayasan lain.
“Harapan saya bisa berganti yayasan dengan yayasan yang memberikan insentif 10 persen sesuai juknis BGN, sehingga dapur saya bisa kembali berjalan,” ujarnya.
SEBUT SUDAH BEBERAPA KALI DIMEDIASI
Arlita mengatakan persoalan tersebut telah beberapa kali dibahas melalui mediasi. Ia menyebut telah mengikuti sekitar lima kali pertemuan dengan pihak pusat dan dua kali pertemuan di Jayapura.
Meski demikian, ia mengatakan hingga kini belum terdapat penyelesaian yang membuat operasional dapurnya kembali berjalan.
Sebelum tersuspensi, dapur SPPG Mimika Baru Pasar Sentral disebut melayani kebutuhan makanan bergizi bagi sejumlah sekolah di wilayah Distrik Wania.
Arlita menyebut sedikitnya lima sekolah menjadi penerima layanan, di antaranya SMP Negeri 7, SMP FK, SMA Taruna Papua, SD PK Kencana dan satu sekolah lainnya.
Ia berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari pihak terkait, khususnya mengenai mekanisme kerja sama antara pemilik dapur dan yayasan serta ketentuan mengenai besaran insentif.
“Yang saya inginkan hanya aturan itu dijalankan. Kalau memang ketentuannya 10 persen, maka kami berharap semua mengikuti aturan tersebut,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, keterangan mengenai permintaan insentif 50 persen tersebut masih merupakan pernyataan dari Arlita. MIMIKABERKABAR.COM belum memperoleh keterangan dari pihak yayasan terkait maupun Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai polemik tersebut.(red)





















Komentar