MIMIKA BERKABAR.COM– Pemenuhan kebutuhan tenaga ahli kefarmasian, terutama profesi apoteker, di wilayah Provinsi Papua Tengah masih menyisakan pekerjaan rumah besar.
Tidak hanya terbatas secara jumlah, persebaran mereka pun belum menjangkau seluruh daerah kabupaten. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa konsentrasi terbesar apoteker masih berada di pusat-pusat kota, sementara wilayah pedalaman dan lokasi dengan medan sulit justru mengalami kekurangan akut akan tenaga profesional ini.
Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Pengurus Daerah Papua Tengah, Apt. Jeuquline Octoviana Tentua, S.Si., M.H.Kes., kepada awak media usai rangkaian acara penutupan Musyawarah Kerja Daerah (Muskerda) dan Workshop Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit Indonesia (HISFARSI) se-Papua Tengah, yang digelar pada Senin (1/6/2026).
Menurut Jeuquline, keberadaan tenaga farmasi merupakan tulang punggung dalam sistem kesehatan. Tanggung jawab mereka tidak hanya terbatas pada pengelolaan obat-obatan, bahan medis habis pakai, hingga alat kesehatan, melainkan juga mencakup pelayanan farmasi klinis yang langsung bersentuhan dengan pasien.
“Seorang apoteker harus mampu menerapkan keilmuannya secara menyeluruh, dari proses peracikan resep, monitoring terapi menggunakan obat, sampai pemberian konseling kepada pasien. Bahkan di lingkungan rumah sakit, apoteker saat ini sudah menjadi bagian dari tim medis yang ikut serta dalam visite bersama dokter untuk menjamin efektivitas terapi obat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Jeuquline membeberkan data terbaru. Saat ini, jumlah apoteker yang tercatat di Papua Tengah adalah lebih dari 150 orang. Di Kabupaten Nabire sendiri terdapat sekitar 160 apoteker, sementara 11 orang lainnya berasal dari Intan Jaya dan tergabung dalam IAI wilayah Mimika.
Secara akumulasi, total apoteker yang tersebar di delapan kabupaten di Papua Tengah mencapai angka lebih dari 310 orang.
Namun, ia menegaskan bahwa data tersebut belum menggambarkan pemerataan yang ideal.
“Tidak semua apoteker mengabdi di rumah sakit. Sebagian besar memilih praktik di apotek swasta, perusahaan distributor farmasi, puskesmas, atau fasilitas layanan kesehatan lainnya. Akibat kondisi ini, masih banyak wilayah tertentu yang sangat merasakan kelangkaan tenaga apoteker,” ujarnya.
Saat ini, struktur kepengurusan IAI Papua Tengah baru terbentuk di tiga daerah, yakni Mimika, Nabire, dan Intan Jaya. Sementara itu, para apoteker yang bertugas di kabupaten lainnya masih harus berafiliasi dengan cabang IAI yang terdekat secara geografis.
Bentang alam Papua Tengah yang begitu luas serta keberadaan beberapa zona dengan tingkat kerawanan keamanan yang tinggi menjadi faktor dominan yang mempengaruhi distribusi tenaga kesehatan, tidak terkecuali apoteker.
“Para apoteker sejatinya memiliki kesiapan tinggi untuk ditugaskan di mana pun, termasuk seluruh penjuru Papua Tengah. Namun, faktor keamanan acap kali menjadi pertimbangan utama, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki potensi konflik tinggi.
Karena itu, kami terus mengingatkan pemerintah daerah agar jaminan keselamatan bagi tenaga kesehatan dapat dipenuhi secara sungguh-sungguh,” ungkap Jeuquline.
Selain aspek keamanan, IAI Papua Tengah juga berharap agar pemerintah daerah memberikan perhatian serius pada peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan yang ditempatkan di daerah terisolir dan pedalaman.
“Kami memiliki komitmen untuk mendukung pemenuhan tenaga apoteker di seluruh Papua Tengah. Namun, harus ada jaminan keamanan dan tingkat kesejahteraan yang sebanding dengan beratnya tantangan yang mereka hadapi di lapangan,” tegasnya.
Melalui gelaran Muskerda HISFARSI Papua Tengah, pihaknya berharap akan lahir sejumlah program prioritas yang tidak hanya mengasah kompetensi tenaga farmasi, tetapi juga mampu mendorong akselerasi pemerataan pelayanan kefarmasian hingga ke daerah-daerah yang masih terganjal keterbatasan tenaga kesehatan. (Red)

























Komentar